Toko Pasutri

Senin, 10 Desember 2012

Ini Larangan dan Denda Kalau Sengaja Promosi Susu Formula


Pemerintah melarang kegiatan-kegiatan yang dianggap menghambat program pemberian ASI Eksklusif 6 bulan dan melarang pemberian susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan. Apa saja yang dilarang dan adakah dendanya?

PP nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif menegaskan tenaga dan fasilitas kesehatan yang memberikan susu formula harus menaati beberapa ketentuan termasuk dilarang melakukan kegiatan promosi.

Kegiatan yang dikategorikan promosi susu formula dalam PP nomor 33/2012 seperti dilansir Selasa (3/4/2012) antara lain:
  • Memajang produk susu formula bayi
  • Memberikan potongan harga
  • Memberikan sampel Susu Formula Bayi
  • Memberikan hadiah
  • Memberikan informasi melalui saluran telepon, media cetak dan elektronik
  • Memasang logo atau nama perusahaan pada perlengkapan persalinan dan perawatan Bayi
  • Membuat dan menyebarkan brosur, leaflet, poster, atau yang sejenis lainnya.
Ketentuan tersebut tidak terbatas pada susu formula saja, melainkan pada produk-produk bayi lainnya yang terkait langsung dengan kegiatan menyusui. Termasuk di antaranya adalah segala bentuk susu dan pangan bayi lainnya, botol susu, dot dan empeng.

Dalam kondisi darurat atau bencana, fasilitas kesehatan juga tidak boleh sembarangan menerima bantuan susu formula bayi dan produk bayi lainnya. Bantuan semacam itu hanya boleh diterima setelah mendapat izin dari Kepala Dinas Kesehatan setempat.

Penyelenggara fasilitas layanan kesehatan bahkan tidak boleh sembarangan menerima bantuan dana dari produsen atau distributor susu formula bayi atau produk lainnya. Jika bantuan itu ditujukan untuk menyediakan pelayanan di bidang kesehatan, maka bantuan itu wajib ditolak.

PP nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif tidak mengatur sanksi, karena akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Kesehatan. Namun menurut Undang-undang Nomor 36/2009 tentang Kesehatan, semua pihak yang dengan sengaja menghalangi pemberian ASI Eksklusif bisa dipidana paling lama 1 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 09 Desember 2012

Apa Syaratnya Kalau Bayi Mau Pakai Susu Formula?


Dalam kondisi tertentu seperti yang ditentukan dalam peraturan pemerintah, Air Susu Ibu (ASI) boleh diganti dengan susu formula untuk bayi. Namun ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi jika ingin memakai susu formula. Apa saja?

Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, dalam beberapa kondisi medis maupun non medis ibu melahirkan diperbolehkan untuk tidak memberikan ASI Eksklusif. Sebagian gantinya, seperti ditulis Selasa (3/4/2012), bayi boleh diberi susu dengan formula khusus bayi yang sesuai dengan kondisinya.

Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus, yakni bayi dengan kriteria:
  1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula khusus bebas galaktosa
  2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease), diperlukan formula khusus bebas leusin, isoleusin, dan valin
  3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin, dan dimungkinkan beberapa kali menyusui, di bawah pengawasan.
Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas, yaitu:
  1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu lima ratus) gram (berat lahir sangat rendah)
  2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur
  3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada bayi prematur, kecil untuk umur kehamilan atau yang mengalami stres iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan, Bayi yang sakit dan Bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes, jika gula darahnya gagal merespons pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 08 Desember 2012

Semua Perempuan Harus Beri Bayi ASI Eksklusif, Kecuali..


Menurut peraturan terbaru, pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif adalah kewajiban setiap ibu melahirkan. Namun ada beberapa kondisi yang memperbolehkan para ibu untuk tidak patuh pada peraturan tersebut. Kondisi apa saja yang dimaksud?

Dalam penjelasan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif tertulis, kondisi medis yang tidak memungkinkan dilakukannya pemberian ASI Eksklusif antara lain sebagai berikut.

Perkecualian diberikan pada beberapa kondisi medis yang dialami oleh ibu melahirkan. Di antaranya adalah sebagai berikut, seperti ditulis Selasa (3/4/2012):
  1. Ibu terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)
  2. Sepsis (infeksi demam tinggi sampai tidak sadarkan diri)
  3. Infeksi Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) di payudara
  4. Menggunakan obat penenang, antiepilepsi, opioid, radioaktif iodine-131, yodofor topikal dan sitotoksik kemoterapi.
Selain karena kondisi medis, ASI Eksklusif juga tidak bisa diberikan jika ibunya tidak ada baik karena meninggal dunia atau terpisah sejak lahir.

Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus, yakni bayi dengan kriteria:
  1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula khusus bebas galaktosa
  2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease), diperlukan formula khusus bebas leusin, isoleusin, dan valin
  3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin, dan dimungkinkan beberapa kali menyusui, di bawah pengawasan.
Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas, yaitu:
  1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu lima ratus) gram (berat lahir sangat rendah)
  2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur
  3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada bayi prematur, kecil. Untuk umur kehamilan atau yang mengalami stres iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan, Bayi yang sakit dan Bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes, jika gula darahnya gagal merespons pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 07 Desember 2012

Kenapa ASI Eksklusif Wajib Diberikan Selama 6 Bulan?


Peraturan terbaru menetapkan, ibu yang melahirkan wajib memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama 6 bulan sejak anaknya lahir. Kenapa pemberian ASI eksklusif wajib selama minimal 6 bulan?

Pemerintah menjamin perlindungan bagi para ibu yang akan melaksanakan kewajibannya tersebut.

Kewajiban untuk memberikan ASI Eksklusif tercantum pada pasal 6 Peraturan Pemerintah (PP) nomor 33/2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif yang ditetapkan pada 1 Maret 2012. Bunyinya adalah sebagai berikut, seperti ditulis Selasa (3/4/2012).

"Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada bayi yang dilahirkannya".

Kenapa harus minimal 6 bulan?

Pemerintah mengikuti rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menyarankan ibu menyusui bayinya selama 6 bulan penuh untuk menghindari alergi dan menjamin kesehatan bayi yang optimal.

ASI Eksklusif perlu diberikan selama 6 bulan karena pada masa itu bayi belum memiliki enzim pencernaan yang sempurna untuk mencerna makanan atau minuman lain. Terlebih semua jenis nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi sudah bisa dipenuhi dari ASI.

Tujuan pemberian ASI Eksklusif seperti tertulis dalam penjelasan PP tersebut adalah melindungi bayi dari risiko infeksi akut seperti diare, pneumonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. ASI Ekslusif juga melindungi bayi dari penyakit kronis di masa depan seperti diabetes melitus tipe 1.

Menyusui bayi juga berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total, penurunan prevalensi diabetes melitus tipe 2 dan juga obesitas saat remaja dan dewasa.

Sementara bagi ibu, menyusui dapat menunda kembalinya kesuburan dan mengurangi risiko perdarahan pasca melahirkan, kanker payudara, pra menopause dan kanker ovarium.

ASI Ekslusif diberikan selama 6 bulan pertama sejak bayi dilahirkan, tanpa diberi tambahan makanan atau minuman apapun. Saat memasuki usia 6 bulan, bayi baru diperkenalkan pada Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) sedangkan pemberian ASI tetap diteruskan hingga bayi berusia 2 tahun.

Bila bayi diberi ASI eksklusif 6 bulan penuh, akan mengurangi kemungkinan ibu untuk hamil lebih dini. Ibu yang menyusui dengan ASI biasanya juga lebih cepat mengembalikan postur tubuhnya seperti sebelum hamil. Selain itu juga mengurangi kemungkinan kerapuhan pada tulang ibu. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamis, 06 Desember 2012

PP Pemberian ASI Eksklusif Sudah Resmi Disahkan Lho..


Setelah molor beberapa kali, Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pemberian ASI Eksklusif akhirnya berhasil ditetapkan. Poin terpenting dalam PP tersebut antara lain susu formula dilarang beriklan dan perusahaan akan dikenai sanksi jika menghalangi pemberian ASI Eksklusif oleh karyawan wanitanya.

PP Pemberian ASI Eksklusif ini diberitakan dalam lembar negara No 33 tahun 2012 dan ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono per 1 Maret 2012.

Seperti dilansir dari data sekretariat negara, Senin (26/3/2012), beberapa poin penting yang termuat dalam peraturan tersebut antara lain perusahaan susu formula dilarang mengiklankan produknya. Larangan itu berlaku untuk iklan susu formula bayi yang dimuat di media massa, baik cetak maupun elektronik dan media luar ruang.

Pengecualian berlaku apabila pemuatan iklan tersebut dilakukan pada media cetak khusus tentang kesehatan. Namun pengecualian itu juga disertai ketentuan lain, yakni harus mendapat persetujuan menteri dan memuat keterangan bahwa susu formula bayi bukan merupakan pengganti ASI.

Larangan yang termuat dalam pasal 19 itu mengatur kegiatan-kegiatan yang dianggap menghambat program pemberian ASI Eksklusif. Selain iklan, kegiatan lain yang juga dilarang antara lain pemberian contoh produk susu formula bayi secara cuma-cuma dalam bentuk apapun kepada penyelenggara fasilitas layanan kesehatan, tenaga kesehatan, ibu hamil dan ibu melahirkan.

Poin penting lainnya yang juga diatur dalam peraturan tersebut adalah kewajiban tempat kerja dan sarana umum untuk menyediakan ruang menyusui atau memerah ASI. Penyediaan ruangan tersebut disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dan akan diatur dengan Peraturan Menteri.

Selain fasilitas ruang menyusui atau memerah ASI, perusahaan swasta dan perkantoran pemerintah maupun pemerintah daerah juga diwajibkan memberi kesempatan bagi ibu menyusui untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Perusahaan juga harus membuat peraturan yang mendukung pemberian ASI Eksklusif.

”Bagi yang tidak menyediakan, ada sanksi, mulai dari peringatan lisan, tertulis, hingga pencabutan izin,” kata Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan, Slamet Riyadi Yuwono seperti dikutip dari Menkokesra.go.id. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Rabu, 05 Desember 2012

Alasan Promosi Susu Formula Perlu Diatur


Regulasi diperlukan untuk mengatur dan menertibkan berbagai hal, termasuk dalam hal promosi susu formula. Tapi kenapa regulasi ini untuk susu formula sangat dibutuhkan?

Susu formula atau pengganti ASI adalah semua makanan dan minuman yang diberikan pada bayi sebelum ia berusia 6 bulan untuk menggantikan air susu ibu. Dan pada usia 6 bulan sampai 2 tahun makanan atau minuman ini akan menggantikan bagian dari makanan atau diet bayi.

"Studi analisis menunjukkan hubungan antara iklan di majalah keluarga dengan menyusui pada tahun 1972-2000. Studi ini menemukan hubungan antara frekuensi iklan dengan peningkatan konsumsi susu formula," ujar David Clark dari Unicef (United Nation Children's Fund) dalam acara 'Oneasia Breastfeeding Partners Forum 7' di Hotel Grand Flora Kemang, Rabu (10/11/2010).

Kondisi ini menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan oleh perusahaan susu formula akan mempengaruhi jumlah penjualannya. Diketahui sekitar dua per tiga konsumen susu formula berasa dari negara Asia Pasifik yang mencapai 7,5 juta dollar AS dengan konsumen pertama adalah China sebesar 5,2 juta dollar AS dan diikuti oleh Indonesia sebesar 1,1 juta dollar AS.

Sementara itu Dr Derrick Jeliffe dari Food Nutrition Institute, Jamaika pada tahun 1968 menuturkan promosi produk susu formula berhubungan dengan kondisi malnutrisi yang nantinya dapat berdampak terhadap kematian anak. Atas dasar itulah dibutuhkan regulasi tentang susu formula.

"Ada berbagai variasi regulasi internasional yang signifikan dalam hal pemasaran susu formula, hal ini merefleksikan adanya perbedaan dalam hal pemasaran dan penjualan susu formula di tiap negara," ungkap David.

David menuturkan perusahaan-perusahaan susu formula akan mengembangkan produk baru dan berusaha menghindari regulasi yang ada. Karenanya dibutuhkan regulasi yang tegas dan mencakup berbagai pihak baik dari institusi kesehatan dan juga pemerintah.

Agar jumlah ibu-ibu yang menyusui semakin banyak dibutuhkan regulasi yang mencakup keseluruhan susu formula hingga usia 2 tahun, dan tenaga kesehatan harus melindungi, mempromosikan dan mendukung ibu menyusui serta tidak membantu promosi susu formula.

Untuk itu dibutuhkan regulasi mengenai susu formula, karena jika promosi susu formula menurun akan membuat lebih banyak ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya yang akan berdampak terhadap menurunnya angka malnutrisi dan juga kematian bayi.

Bagaimana Regulasi Susu Formula di Indonesia?

Maraknya iklan susu formula yang terdapat di televisi, internet, koran maupun di pinggir-pinggir jalan cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan ASI eksklusif pada masyarakat.

Permasalahan menyusui di Indonesia sekitar 50 persennya akibat pengaruh dari pemasaran iklan susu formula. Karenanya jika produsen susu formula tidak boleh membuat iklan di semua sektor, maka setengah dari permasalahan menyusui di Indonesia mungkin bisa teratasi.

"Saat ini Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) nya tengah digodok dan diharapkan tahun depan sudah bisa dirilis regulasi mengenai larangan iklan susu formula di bawah usia 1 tahun," ujar dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dari komisi 9 DPR, dalam acara Oneasia Breastfeeding Partners Forum 7 di Hotel Grand Flora Kemang, Rabu (10/11/2010).

Diharapkan PP ASI dalam UU No. 36/2009 tentang Kesehatan yang akan mengatur mengenai pemberian ASI eksklusif bagi bayi, pembatasan susu formula, dalam hal ini termasuk pembatasan iklan produk susu formula serta pembentukan ruangan menyusui di perusahaan bisa dirilis tahun depan.

Meski demikian David Clark dari Unicef menuturkan secara internasional pelarangan iklan susu formula tidak hanya untuk susu hingga usia 1 tahun tapi sampai 2 tahun.

"Itulah gunanya forum diskusi seperti ini, jadi kita bisa tahu bagaimana peraturan di negara-negara lain," ungkap dr Nova.

Selain itu kampanye pemberian ASI eksklusif memiliki peran yang sangat vital dalam menurunkan angka kematian bayi di bawah usia 5 tahun. Diketahui target MDGs untuk angka kematian bayi harus mencapai 23/1.000 kelahiran dan hingga tahun 2007 masih 34/1.000 kelahiran.

Sedangkan untuk angka kematian anak harus mencapai 32/1.000 kelahiran dan hingga tahun 2007 masih 44/1.000 kelahiran. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Selasa, 04 Desember 2012

Makanan Pendamping ASI yang Tepat untuk si Kecil


Setelah ibu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, maka sudah saatnya bagi si kecil diberikan beberapa makanan pendamping ASI. Apa saja tahapan dalam memberikan MP-ASI?

Saat bayi berusia 6 bulan ke atas, maka ASI sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi bayi hingga 100 persen. Sejak usia 6 bulan bayi sudah harus diperkenalkan dengan makanan cair lain selain ASI untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizinya.

"Standar emas atau golden standard untuk makanan bayi di urutan ketiga adalah makanan pendamping ASI (MPASI). MPASI disini adalah makanan keluarga dalam arti menghindari segala makanan olahan pabrik kecuali saat darurat seperti kebanjiran atau gempa bumi," ujar Dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC saat dihubungi detikHealth, Senin (5/4/2010).

Dr Utami menambahkan makanan keluarga yang dimaksud adalah bayi diberikan makanan yang sama dengan kebiasaan keluarga tersebut dan masih segar, serta bukan makanan olahan pabrik atau kaleng-kalengan.

Karena berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam majalah Lancet 2003, diketahui bahwa makanan keluarga dapat mengurangi 6 persen kematian balita.

Dalam memberikan makanan pendamping ASI dibutuhkan tahapan tertentu agar bayi bisa beradaptasi dengan rasa dari tiap makanan, karena selama 6 bulan bayi sudah sangat terbiasa dengan ASI.

Saat masuk usia 6 bulan cobalah untuk memberinya bubur susu, ibu bisa mengambil beberapa sendok beras yang biasa digunakan keluarga, lalu menumbuknya hingga halus dan ditambahkan air hingga menjadi bubur. Jika sudah tidak panas dan akan diberikan ke bayi, maka tambahkan ASI (bukan susu formula atau susu sapi) sehingga menjadi bubur susu.

"Saat usia 6 bulan ini, bayi juga bisa diberikan selingan berupa buah atau jus sayur. Misalnya seminggu ini sudah diberikan bubur susu saja, maka mulai minggu depan coba tambahkan buah sebagai selingan. Tapi hal ini tergantung dari kondisi bayinya," ujar dokter yang berpraktek di RS St Carolus, Jakarta.

Saat memasuki usia 7 bulan, ibu bisa menyusui ASI saat pagi hari, lalu dilanjutkan dengan bubur susu untuk sarapan paginya, makan siang diberikan makanan tim saring halus dan malam harinya kembali menyusui ASI. Untuk selingan pagi dan sore harinya tetap bisa diberikan jus buah dan jus sayur, jika paginya jus buah maka sore harinya jus sayur atau sebaliknya.

"Untuk usia bayi diatas 7 bulan, maka bayi menerima 4 kali makanan cair yaitu ASI, bubur susu dan dua kali makanan tim saring. Saat usia 8 bulan, tekstur saringannya sudah agak lebih besar dan secara bertahap ukuran saringannya diperbesar," ungkapnya.

Pada bayi usia 8-9 bulan, maka saat malam harinya bukan diberikan ASI lagi tapi diganti dengan makanan tim saring. Tapi jika bayi terbangun di malam hari, ibu tetap bisa memberikan ASI lagi pada bayinya. MPASI untuk bayi usia 8 bulan adalah ASI, bubur susu, tim saring, ASI dan tim saring kembali saat malam hari.

Jika bayi sudah berusia di atas 9 bulan, maka bisa diberikan makanan lunak atau tim saring dengan tekstur yang lebih besar lagi. Pada makanan ini sebaiknya sudah ditambahkan dengan sedikit zat lemak seperti minyak atau margarin. Saat bayi sudah berusia 1 tahun, maka bisa diberikan nasi atau makanan yang sama dengan menu keluarga sesuai dengan kondisi bayi.

Dalam memberikan makanan pendamping ASI, ibu bisa menambahkan makanan lain seperti ati ayam, ikan, wortel dan lainnya. Tapi sebaiknya diberikan satu per satu sehingga si kecil dapat mengenali setiap rasa dari makanan tersebut. Jangan mencampurkan ati ayam dan wortel sekaligus, karena bayi akan sulit mencerna yang mana rasa wortel dan mana rasa ati.

"Jika sudah berusia di atas 2 tahun, maka makanan cair sudah tidak diperlukan lagi dalam arti bukan menjadi makanan utama. Kalau tidak mau makan nasi, coba ganti dengan karbohidrat lain seperti kentang, jagung, pasta, mie atau kuetiaw," ujar dokter yang sangat concern dengan ASI.

Karena itu jika anak tidak mau makan, orangtua tidak bisa menggantikan asupan nutrisinya dengan hanya mengonsumsi susu saja. Karena bayi tetap butuh asupan gizi lain seperti karbohidrat, protein, sayur dan buah untuk menunjang perkembangan tubuhnya.

Sebaiknya makanan pendamping ASI adalah makanan keluarga yang dibuat sendiri, sehingga terjamin kebersihan dan kandungan gizinya serta bahan yang diperlukan juga mudah didapat. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Senin, 03 Desember 2012

Gangliosida Susu Formula Tak Bisa Menyamai ASI


Susu formula terus berupaya keras agar bisa menyaingi air susu ibu (ASI), salah satunya adalah dengan menambahkan zat gangliosida ke dalam produknya. Tapi gangliosida yang ditambahkan ke dalam susu formula tidak bisa menyamai dengan yang ada di ASI.

Gangliosida adalah salah satu zat yang terdapat di ASI dan berguna untuk meningkatkan kemampuan fungsi perkembangan kognitif otak bayi. Karenanya zat ini sangat berguna untuk masa tumbuh kembang otak anak.

Saat bayi baru dilahirkan memiliki lebih dari 100 miliar sel otak, tapi sel-sel tersebut belum terhubung dengan baik satu sama lain. Karena itu dibutuhkan zat gangliosida yang memiliki peran penting untuk memaksimalkan koneksi antara sel-sel otak tersebut.

"Saya rasa bagus jika ada susu formula yang ditambahkan dengan gangliosida, tapi tidak bisa dibandingkan dengan gangliosida yang terdapat di dalam ASI. Karena gangliosida yang ada di ASI terbentuk secara alami, sedangkan yang di susu formula adalah buatan atau sintetis," ujar Dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM di sela-sela acara seminat Menyusui Meningkatkan Kualitas Hidup Perempuan, Di Graha Niaga, Jakarta, Selasa (23/3/2010).

Dr Utami menambahkan jika ingin membandingkan, sebaiknya dibandingkan dengan susu formula yang tidak mengandung gangliosida dan jangan dibandingkan dengan ASI. Karena secara umum di dalam ASI terdapat lebih dari 200 zat yang bermanfaat untuk bayi.

"Jika membandingkan gangliosida di ASI dengan susu formula, itu sama saja seperti membandingkan bayi manusia dengan boneka yang sangat mirip bayi. Keduanya jelas berbeda karena ASI adalah cairan hidup," ungkap dokter yang berpraktek di rumah sakit St Carolus Jakarta.

Zat lain yang juga ditambahkan ke dalam susu formula adalah asam lemak rantai panjang AA dan DHA. Pada susu sapi sebenarnya hanya terdapat asam lemak rantai pendek atau menengah dan bukan yang rantai panjang, sehingga susu formula ditambahkan AA dan DHA.

Tapi hal ini tentu saja berbeda dengan yang ada di ASI, karena di dalam ASI juga terdapat enzim laktase yang berfungsi untuk membantu penyerapan dari asam lemak tersebut.

"Sedangkan asam lemak AA dan DHA yang terdapat di dalam susu formula tidak dilengkapi dengan laktase," ujar dokter yang juga ketua umum Selasi (Sentra Laktasi Indonesia).

Dr Utami menegaskan ASI bukan hanya sebagai makanan atau nutrien bagi bayi, tapi juga mengandung berbagai macam antibodi dan hormon yang sangat dibutuhkan oleh bayi dalam membantu perkembangannya. Karenanya tak ada satupun produk yang bisa menyaingi air susu ibu (ASI). Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 02 Desember 2012

Hanya ASI Satu-satunya Makanan untuk Bayi


Pemberian Air Susu Ibu (ASI) seringkali digabung dengan susu formula sejak bayi lahir. Tapi hal ini tidak dapat dibenarkan, karena ASI adalah satu-satunya pilihan yang harus diberikan sejak bayi lahir hingga 6 bulan ke depan.

Maraknya iklan susu formula yang terdapat di televisi, internet, koran maupun di pinggir-pinggir jalan cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan ASI eksklusif pada masyarakat.

"Tingkat menyusui di Indonesia memang diakui masih rendah. Bahkan negara Afganistan yang sering terjadi konflik tingkat menyusuinya masih lebih tinggi dari kita," ujar Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dalam acara coffee morning AIMI di Restoran Sambara, Jakarta, Senin (21/12/2009).

Lebih lanjut Mia mengungkapkan sekitar 50 persen permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah akibat pemasaran iklan susu formula. Jika produsen susu formula tidak boleh membuat iklan di semua sektor, maka setengah dari permasalahan menyusui di Indonesia bisa teratasi. Sehingga pemerintah dan masyarakat tinggal mendukung gerakan ASI eksklusif, meluruskan mitos-mitos yang ada tentang menyusui dan memberikan edukasi seputar menyusui.

Salah satu konsistensi AIMI dalam hal mengkampanyekan pemberian ASI adalah dengan bergabung bersama lembaga dan masyarakat peduli ASI untuk menolak RUU kesehatan terkait dengan adanya kata-kata susu formula dalam RUU tersebut. Hingga akhirnya AIMI dan pihak lain berhasil mendesak para wakil rakyat untuk menghapuskan kata susu formula serta memberikan pasal sanksi bagi semua pihak yang menghalangi pemberian ASI.

Susu formula selama ini diklaim sebagai produk steril, tapi menurut Mia, siapa yang bisa menjamin bahwa produk tersebut benar-benar steril. Karena dalam prosesnya harus melalui berbagai tahapan hingga akhirnya bisa dijual, ada banyak kemungkinan kontaminasi seperti saat proses di pabrik, proses pengiriman serta saat membuat susu formula, apakah botol dan airnya sudah steril.

"Saat bayi baru lahir, ususnya masih berbentuk bolong-bolong dan hanya bisa tertutup sempurna oleh kolostrum yang terdapat di ASI. Lalu apa jadinya jika usus yang bolong tersebut diisi oleh zat asing seperti susu formula, hal ini justru sangat berisiko," ungkap Mia Sutanto.

ASI sebenarnya sudah terbentuk sejak usia kehamilan 16 hingga 22 minggu dan saat plasenta bayi sudah keluar maka dengan sendirinya hormon kehamilan akan menurun sedangkan hormon menyusui akan meningkat. Saat 1-3 hari setelah melahirkan, ASI cenderung akan bertambah banyak dan semakin sering ASI disedot oleh bayi maka produksinya akan semakin banyak.

Pada intinya tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak memberikan ASI pada bayinya, karena semua zat yang diperlukan oleh bayi saat baru lahir sudah terdapat di dalam ASI. Diperkirakan hanya 1 dari 1.000 ibu yang tidak bisa menyusui anaknya karena ada kelainan di payudara sang ibu dan kelainan ini sudah bisa terdeteksi sejak masa kehamilan.

Diketahui jelas Mia, sebenarnya banyak risiko yang bisa ditimbulkan jika ibu tidak memberikan ASI dan hanya memberikan susu formula saja. Salah satunya adalah kemungkinan terkontaminasi bakteri dari luar, daya tahan tubuh bayi tidak terlalu kuat serta bisa merusak gigi bayi nantinya akibat penggunaan botol susu.

"Bagi ibu yang menyusui dukungan dari suami, orangtua dan juga sang mertua sangat diperlukan agar si ibu lebih percaya diri. Maka diharapkan tahun 2010 tingkat ibu menyusui di Indonesia bisa meningkat," ujar Nia Umar, wakil ketua dari AIMI.

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh ibu untuk tetap memberikan ASI pada anaknya termasuk bagi ibu yang bekerja atau sedang bepergian. Misalnya dengan memompa ASI dan menyimpannya di kulkas atau jika sedang di luar bisa dengan cara menggunakan pakaian berkancing depan dan menutupinya dengan selendang atau pasmina.

"Maka ASI bukanlah yang terbaik tapi the only option (satu-satunya pilihan) susu bagi bayi," ungkap Mia. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Sabtu, 01 Desember 2012

Kontroversi Pendirian Bank ASI


Seperti layaknya bank yang mengatur dan menyediakan stok uang, kini ASI pun dirasa perlu tersedia dalam bentuk bank atau yang dikenal dengan bank ASI. Namun hal ini masih mengundang kontroversi. Mengapa?

Kesulitan para ibu memberikan ASI untuk anaknya menjadi salah satu pertimbangan mengapa bank ASI perlu didirikan, terutama di saat krisis seperti pada saat bencana yang sering membuat ibu-ibu menyusui stres dan tidak bisa memberikan ASI pada anaknya.

Hal ini disampaikan dr Asti Praborini SpA, IBCBC dalam acara lokakarya tentang ASI yang bertepatan dengan hari pertama pekan ASI sedunia yag digelar di Hotel Novotel Bogor, 1-2 Agustus 2009.

"Indonesia sebaiknya segera mendirikan bank ASI seperti negara Kuwait yang sudah memilikinya. Hal ini untuk membantu para ibu terutama mereka yang tidak bisa memberikan ASI karena faktor stres pasca bencana," ujar dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Perinatologi Indonesia (PERINASIA).

Bank ASI juga diharapkan dapat mengurangi serbuan susu formula yang saat ini banyak sekali diiklankan oleh produsen-produsen susu untuk bayi di bawah 2 tahun. Hal ini sedikit banyak mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI.

"Gencarnya iklan-iklan produk susu formula jelas sangat mengganggu program ASI yang seharusnya diberikan ibu hingga anak berumur 2 tahun. Banyak ibu yang tergoda memberikan susu formula padahal anaknya baru berusia beberapa bulan," ujar Asti.

Padahal menurut Asti, susu formula yang diberikan pada bayi di bawah 2 tahun cukup berbahaya. Hal ini disebabkan karena kandungan gizinya yang tidak tepat, komposisinya yang dimodifikasi agar mirip dengan ASI, adanya tambahan zat yang berbahaya untuk bayi, dan yang paling penting adalah masalah sanitasi (air dan pencucian botol) pada pembuatan susu formula tersebut.

Beberapa waktu lalu, masalah susu formula sempat terangkat ketika ditemukannya bakteri E. Sakazaki pada susu formula bayi. Dari situ saja sebenarnya dapat terlihat bahwa tidak ada susu yang sesteril dan sebaik ASI.

Bahkan lembaga Internasional Abbot mengungkapkan bahwa susu formula yang selama ini beredar umumnya nilai gizinya tidak lebih baik dari susu hewan sekalipun. Beberapa jenis susu bahkan mengandung unsur kimia yang dihasilkan dari fermentasi jamur.

Untuk itu, ASI benar-benar harus digalakkan untuk memerangi serbuan susu formula yang bisa menggoyahkan pendirian ibu untuk menyusui, terutama karena banyak diantara produsen susu yang mengiming-imingi para ibu dengan souvenir-souvenir cantik.

Usulan didirikannya bank ASI sebenarnya lebih ditujukan untuk membantu para ibu yang mengalami bencana agar tetap dapat memberikan ASI ketimbang susu formula yang banyak sekali diberikan oleh donatur produsen susu guna mempromosikan produknya.

"Sebagian ibu yang mengalami bencana mengaku terpaksa memberikan susu formula karena kesulitan mengeluarkan ASI akibat situasi traumatik pasca bencana," ujar Asti.

Padahal menurut pengamatan UNICEF pasca gempa Yogyakarta 2006 silam, kasus diare pada bayi di bawah dua tahun yang mengonsumsi susu formula meningkat 2 kali lipat dibanding mereka yang tidak mengonsumsi susu formula.

Hampir 80 persen anak di bawah dua tahun mendapat bantuan susu formula dari donatur dan sumbangan tersebut tidak dapat terkontrol dengan baik oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Menurut Asti, yang menjadi bahaya utama susu formula adalah bahan susu itu dan cara penggunaannya. Pada Desember 2005, ditemukan susu formula yang dipalsukan, dimana setelah dicek di laboratorium kandungannya hanya tepung dan gula.

"Botol, dot dan benda lain yang digunakan dalam pemberian susu formula juga bisa jadi masalah. Jika tidak steril, benda-benda itu bisa memicu beragam bakteri berbahaya, apalagi dengan kondisi air yang sangat krisis pada saat bencana," ujar Asti.

Oleh karena itu, mendirikan bank ASI menurut Asti dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk menangani kasus diare pada bayi korban bencana.

Namun hingga saat ini bank ASI masih menjadi kontroversi di Indonesia. Hal ini terkait dengan masalah agama dan kepercayaan yang dianut umat muslim di Indonesia.

Disebut-sebut bahwa adanya bank ASI menyalahi aturan mengenai saudara sepersusuan yang diatur ketat dalam agama Islam. Jika bank ASI didirikan, ada kemungkinan beberapa bayi mendapatkan air susu dari satu sumber, dan hal ini dapat meningkatkan resiko pernikahan yang diharamkan jika suatu saat sang bayi yang menyusu dari satu sumber tersebut dewasa dan menikah.

Namun Asti menjelaskan bahwa bank ASI yang sudah ada di Kuwait justru menganut kiblat Imam Syafii yang mengatakan bahwa saudara sepersusuan hanya dianggap jika bayi mendapatkan air susu langsung dari payudara yang berasal dari satu ibu, artinya jika si bayi disusukan langsung dari payudara satu ibu.

Jadi jika mengarah pada kiblat tersebut, sebenarnya bank ASI dapat didirikan karena bank ASI hanya merupakan tempat penyimpanan dan pendistribusian ASI saja, bukan tempat menyusui bayi secara langsung.

Namun dr Utami Roesli SpA, MBA, IBCLC yang menjadi salah satu narasumber pada lokakarya tersebut mengatakan bahwa pendirian bank ASI masih terlalu jauh untuk diterapkan di Indonesia. Butuh waktu dan proses yang panjang untuk mengikuti negara Kuwait yang sudah lebih dulu memiliki bank ASI.

Selain itu, kendala yang mungkin dihadapi adalah proses screening penyakit pada ibu-ibu yang akan mendonor, terutama HIV. "Pendonor harus diperiksa HIV dulu, dan tidak banyak orang yang mau melakukannya karena mungkin malu jika ketahuan, apalagi dilakukan dengan sukarela," ujar Utami.

Utami justru lebih menggencarkan program laktasi dan relaktasi untuk para ibu yang kesulitan mengeluarkan ASI karena faktor stres pasca bencana.

"Ibu-ibu korban bencana yang mendapatkan sumbangan susu formula dari produsen merasa mubazir jika produk sumbangan tersebut tidak terpakai, oleh karena itu mereka menghentikan kegiatan menyusui anaknya padahal ASI-nya masih bagus," ujar Utami.

Untuk itu, posko menyusui perlu didirikan jika terjadi bencana-bencana selanjutnya. "Disitu para ibu akan diberi konseling, motivasi dan pengetahuan tentang pentingnya menyusui bagi anak terutama di saat genting seperti bencana," jelas Utami.

Utami juga menjelaskan rencananya membuat sistem 'empowering comunity' yang menyerupai sistem rantai MLM dimana petugas-petugas kesehatan terus menggalakkan pentingnya ASI dan menolak pemberian susu formula pada bayi di bawah dua tahun, terutama untuk para ibu yang berada di daerah terpencil dan terbatas pengetahuannya tentang ASI.

"Masyarakat harus benar-benar sadar dan jangan menganggap remeh ASI, karena banyak dokter-dokter dan bidan yang dikompori oleh para produsen susu untuk menyarankan susu formula ketimbang ASI pada ibu yang baru melahirkan," ujar Utami.

"Jangan mau dibodohi iklan susu formula, karena sebaik-baiknya susu formula tidak ada yang bisa menandingi ASI, apalagi mendapatkannya gratis, tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun," tegas Utami.

Memberikan ASI pada anak adalah yang terbaik, namun yang tidak kalah penting adalah kegiatan menyusui itu sendiri karena dari situlah ikatan ibu dan anak terbentuk.

Adanya bank ASI memang penting dalam situasi tertentu, namun memang membutuhkan proses yang panjang untuk mewujudkannya. Selama kontroversi belum berakhir, sebaiknya lakukan saja apa yang bisa dilakukan sekarang. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Jumat, 30 November 2012

ASI Vs Susu Formula


Ibu akan mengalami dilema ketika harus dihadapkan pada pilihan memberikan ASI atau susu formula. Meski pemberian ASI masih yang terbaik, namun banyak kendala yang membuat pemberian ASI pada bayi tidak maksimal.

Banyak kasus di rumah sakit ketika bayi lahir buru-buru diberi susu formula oleh perawatnya tanpa setahu orang tuanya. Meski banyak kejadian ini, tapi kasus seperti itu tetap bersembunyi di bawah karpet.

Namun tidak ada yang membantah susu formula adalah makanan tambahan untuk bayi selain ASI. Meski orang tua harus menyiapkan dana tidak sedikit untuk menyediakan susu formula.

Memilih apakah akan menyusui atau memberikan susu formula adalah salah satu keputusan yang harus diambil oleh orang tua. Meskipun tidak ada pilihan benar atau salah, namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan menyusui sebagai pilihan terbaik untuk bayi. Bayi harus diberikan ASI eksklusif untuk 6 bulan pertama.

Air susu ibu (ASI) merupakan nutrisi yang ideal untuk bayi yang baru lahir, tapi untuk ibu-ibu yang tidak dapat menyusui atau memutuskan untuk tidak menyusui, susu formula bayi adalah alternatif yang baik.

Jika menggunakan susu formula pastikah bahwa gizi bayi tersebut telah terpenuhi. Dan ibu masih masih memiliki ikatan dengan bayinya. Pilihan yang diambil apakah dengan air susu ibu atau susu formula, waktu pemberian makan pada bayi adalah saat yang penting untuk membina ikatan yang kuat antara ibu dan bayinya.

Berikut plus minus dari ASI dan susu formula seperti dilansir dari MSNhealth, Kamis (23/7/2009):

Keuntungan ASI
Ada banyak keuntungan yang bisa diambil jika ibu memberikan ASI pada bayinya, diantaranya adalah dapat meningkatkan ikatan batin antara ibu dan bayinya. Selain itu ASI juga bisa melindungi bayi dari alergi, asma, diabetes, obesitas dan sudden infant death syndrome (SIDS).

ASI mengandung komponen laktosa, protein, dan lemak yang mudah dicerna oleh system pencernaan bayi yang baru lahir. ASI juga mengandung semua komponen alami vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh bayi. Selain itu, ASI membuat orang tua berhemat karena tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli susu.

Keuntungan lainnya adalah bayi yang mengkonsumsi ASI selama 6 bulan pertama memiliki tingkat IQ 5-10 kali lebih tinggi dibanding bayi yang tidak mengkonsumsi ASI. Kontak kulit antara ibu dan bayi bisa meningkatkan emosional antara keduanya, dan ASI juga memberikan keuntungan untuk sang ibu, karena bisa membakar kalori ibu dan menurunkan risiko kanker payudara setelah menopaouse nanti.

Tantangan menggunakan ASI
Umumnya ibu yang pertama kali menyusui akan merasa tidak nyaman saat menyusui bayinya, sehingga dibutuhkan teknik khusus untuk membuatnya merasa nyaman.

Bayi akan lebih sering menyusui ASI dibandingkan dengan susu formula, ini karena ASI lebih cepat dicerna oleh tubuh bayi sehingga bayi akan cepat pula merasa lapar, sehingga tidak ada jam khusus untuk bayi menyusui ASI. Dan ibu yang memberikan ASI harus menjaga pola makannya termasuk tidak boleh mengkonsumsi kafein berlebih dan membatasi penggunaan obat-obatan jika sang ibu sakit.

Keuntungan Susu Formula
Ibu yang memberikan susu formula pada bayinya akan memiliki waktu yang lebih banyak untuk beraktifitas di luar seperti bekerja, sehingga ibu bisa tetap bekerja namun tidak melupakan bayinya. Ibu tidak perlu khawatir tentang makanan atau apapun yang dikonsumsinya, karena tidak akan berpengaruh dengan sang bayi.

Susu formula lebih lama dicerna oleh tubuh bayi karena komponen yang terkandung di dalamnya lebih kompleks, sehingga waktu pemberian susu formula lebih sedikit dibandingkan dengan ASI.

Tantangan Susu Formula
Botol yang digunakan dalam pemberian susu formula harus higienis dan disteril lebih dahulu untuk menghindari infeksi bakteri ataupun virus, sehingga penyiapannya lebih repot. Antibodi yang terdapat disusu formula tidak selengkap ASI, sehingga bayi akan kekurangan beberapa antibodi. Selain itu orang tua juga harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli susu formula, serta harus dicari susu formula yang cocok untuk bayinya sehingga tidak menimbulkan alergi.

Setiap orang tua berhak menentukan apa yang akan dipilih untuk bayinya, tapi selama ibu tidak mempunyai masalah dengan ASI, tidak ada salahnya untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayinya selama 6 bulan pertama. Kecuali jika sang ibu ada masalah pada ASI-nya atau memiliki penyakit tertentu yang bisa membahayakan bayinya. Sumber...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Ruang ASI. Info Seputar Ibu Hamil, Anak, Bayi dan Balita...